|
Judul Buku : Para Pengkhianat Islam Penulis : Maryam Jameelah Penerbit : Pustaka Thariqul Izzah Terbit : Cetakan 2, Mei 2008 Tebal Buku : 85 hlm; 17,5 cm Harga : Rp.10.000,- Salah satu cara musuh-musuh Islam untuk menghancurkan kaum muslimin adalah dengan menyusupkan orang-orang yang diberi label ulama maupun intelektual muslim namun hakekatnya mereka memiliki pemikiran-pemikiran kufur. Mereka ini mendapatkan gemblengan langsung dari para orientalis dan pemikir kapitalisme. Mereka dibesarkan pada lingkungan yang sekuler sehingga dalam benak mereka hanyalah sistem kehidupan sekuler-kapitalistik sajalah yang terbaik dan mereka berjuang agar kaum muslimin mau mengikuti sistem kufur tersebut.
Hal ini tentu sangat membahayakan kaum muslimin. Ibarat musuh dalam selimut, di tengah-tengah umat para pengkhianat ini berusaha menipu dan menyesatkan dengan propaganda-propaganda kufur namun seolah-olah Islami. Tak sedikit umat yang tertipu dan mengamini bahkan menjadikan mereka sebagai figur panutan. Buku ini mencoba menyingkap profil para pengkhianat Islam yang selama ini justru sering dianggap sebagai pembaharu, berikut dengan pemikiran-pemikiran kufur yang mereka emban. Beberapa diantaranya: Sir Sayyid Ahmad Khan. Dia adalah guru dari Mirza Ghulam Ahmad yang kemudian mengaku drinya sebagai nabi dan menyebut pengikutnya dengan Ahmadiyah. Salah satu pemikiran Mirza Ghulam yang menyatakan bahwa jihad melawan Inggris merupakan tindak kejahatan tak lain bersumber dari pemikiran gurunya tersebut. Sayyid Ahmad Khan memang getol menunjukkan kesetiaannya mengabdi pada penjajah Inggris di India. Setelah kunjungannya ke Inggris pada bulan April 1869, dia sempat menyatakan perumpamaan kaum muslim India ibarat hewan yang dekil sementara orang-orang Inggris diibaratkan sebagai seorang pria yang tampan dan terampil. Sayeed Ameer Ali. Penulis buku “The Spirit of Islam” ini mengenyam pendidikan di Universitas Aligarh yang didirikan oleh Sayyid Ahmad Khan. Buku “The Spirit of Islam” karangannya merupakan buku Islam klasik berbahasa Inggris yang paling terkenal. Banyak mualaf dari Eropa dan Amerika yang mendapatkan informasi keliru tentang Islam dari buku tersebut. Buku yang edisi pertamanya terbit tahun 1891 ini mencoba memaksakan Islam sebagai agama yang paling liberal dan rasional (yang melambangkan ‘kemajuan’ sebagaimana yang dipahami kalangan modern). Poligami, jilbab dan jihad ditolak. Ameer Ali dalam buku ini pun menyatakan bahwa Al Qur’an bukan merupakan wahyu Allah tapi sekadar hasil pemikiran manusia. Selanjutnya, ia menolak syariat yang disebutnya ketinggalan jaman dan menghambat kemajuan. Maulana Abul Kalam Azad. Pada awalnya, putra dari ulama terkemuka India ini dikenal sebagai pemuda cerdas yang sangat menentang pemikiran modern dan westernisasi. Dia pun terjun di dunia jurnalistik dengan menerbitkan majalah “Al Hilal”. Tiras majalah ini sempat mencapai jumlah 25 ribu eksemplar sebelum dibredel oleh Inggris dan Abul Kalam pun dipenjara. Perubahan 180 derajat terjadi pada diri Abul Kalam selepas ia keluar dari penjara. Dia menjadi penganjur persatuan umat Islam dan Hindu di India atas nama nasionalisme sekuler. Demi nasionalisme pula, ia pernah mengatakan bahwa sebaiknya umat Islam tidak lagi menyembelih dan memakan daging sapi sekalipun pada hari raya Idhul Adha karena orang Hindu merasa tersinggung karenanya. Abul Kalam Azad pun mengusung ide semua agama itu benar yang ia adopsi dari pemikiran Hindu. Mustafa Kemal Pasha. Mustafa muda memang sudah dikenal sebagai pemberontak. Saat mengenyam pendidikannya di sekolah militer, ia bergabung dengan kumpulan mahasiswa nasionalis yang fanatik. Dialah aktor terdepan yang menghancurkan Khilafah Utsmaniyah di Turki. Setelah berkuasa, Mustafa Kemal menjadi diktaktor absolut. Rakyat Turki dipaksa menerima reformasi anti Islam, seperti larangan memakai sorban, wajib memakai busana Eropa, wajib menggunakan aksara latin, kalender Kristen dan menjadikan hari Ahad sebagai hari libur. Rakyat dipaksa di bawah ancaman pedang. Dalam satu kesempatan, Mustafa Kemal dengan sombongnya berujar, “Urusan agama tidak pernah terlintas dalam benak mereka (rakyat Turki), kecuali pada bulan Ramadhan, ketika kakek-kakek dan bibi mereka yang tua tengah berpuasa.” Syaikh Ali Abd Ar Raziq. Dia merupakan ulama Muslim pertama yang menentang Khilafah. Dia menulis buku berjudul Al-Islam wa Ushul al-Hukm tahun 1925, dimana Khilafah telah runtuh dan suasana muram serta sikap rendah diri para cendekiawan muslim terjadi sebagai dampak imperialisme asing yang menyerang di tengah-tengah ummat. Ali Abd ar Raziq telah terpengaruh propaganda kaum Nasrani yang menyatakan kekuasaan politik tidak dapat dipadukan dengan nilai-nilai relijius. Dia mengharap Islam menjadi sekadae ajaran teologis, filsafat teoritis atau mimpi-mimpi indah yang tak berguna seraya menafikkan fakta bahwa Islam pernah benar-benar diimplementasikan. Ali Abd ar Raziq dan bukunya Al-Islam wa Ushul al-Hukm telah berupaya mengubah Islam menjadi (sebagaimana) Nasrani!
|