100 Tahun Kebangkitan atau 'Kebangetan' Nasional? PDF Cetak E-mail
Friday, 23 May 2008

Oleh: Erie Sudewo

    Seorang karib dari Yogya kirim sms. Isinya: "Mas, yang benar Kebangkitan atau Kebangetan atau Kebangkrutan Indonesia 100 Tahun?" TETAP SEMANGAT (huruf kapital) di akhir sms-nya. Tersirat rasa frustrasinya. Padahal dia lulusan FE UGM. Pernah menjabat Ketua BEM. Ogah jadi PNS meski difasilitasi. Terbukti sekarang punya usaha sendiri. Dan kini sering menulis opini.

    Malam 20 Mei 2008, seluruh stasiun televisi menayangkan pergelaran '100 Tahun Kebangkitan Nasional' dari Istora Senayan. Ada tiga soal berkait acara ini. Pertama isi acara. Alur tema dengan yang digelar agaknya terputus. Yang diperagakan, ternyata sekadar penggalan tarian daerah. Jakarta dengan ondel-ondel, Bali dengan Barongnya. Sesuatu yang biasa disaksikan sehari-hari. Lantas, bisakah ini jelaskan pertanyaan: 'Apanya yang bangkit?'

    Soal kedua saat pergelaran. Dalam kondisi rakyat yang makin terhimpit, dalam keresahan BBM dan BLT, tepatkah gelar perhelatan seakbar itu? Sense of crisis kita memang dangkal. Dan ketiga, perhelatan ini punya pesan ke seluruh Indonesia. Bahwa Indonesia baik-baik saja. Maka yel-yel pun digelegar. 'Indonesiaaaa Bisaaa'. Sekali lagi, 'Indonesiaaa Bisaaa'. Pertanyaanya: 'Bisa apa?' Perhelatan '100 Tahun Kebangkitan Nasional' memang kaburkan kondisi nyata Indonesia. Kita memang kebangetan. Sesungguhnya Indonesia saat ini tengah menghadapi tiga soal besar. Pertama krisis identitas. Kedua spirit korupsi yang begitu tinggi. Dan ketiga lemahnya berkorban untuk bangsa.

Krisis identitas

    Kata lain krisis identitas, tak lain krisis jati diri. Jati diri dapat disingkap dari lima pertanyaan: siapa kita, dari mana asal usul kita, apa tujuan kita, dimana posisi sekarang dan kini tengah mengerjakan apa. Lima pertanyaan ini harus dijawab dengan jujur. Siapa kita dan asal usul, jelas Indonesia. Tujuan kita, tentu untuk kemakmuran bangsa. Soalnya kini, mengapa hanya segelintir pihak yang nikmati kemakmuran. Di mana posisi Indonesia, ini juga soal besar. Utang Indonesia total sudah capai US$ 150-an miliar lagi. Sumber daya alam, perbankan, dan industri strategis sudah dicaploki asing. BMI yang kita banggakan, toh kepemilikan lokal saat ini hanya 14%. Lantas untuk menjawab kini tengah kerjakan apa, cukup menyimak pergelaran 20 Mei '08. Temanya '100 Tahun Kebangkitan Nasional', tapi isinya tarian daerah. Apa yang dilakukan memang kerap tak nyambung.

    Krisis identitas sudah dimulai sejak SD. Yang diburu cuma kepintaran. Yang punya hubungan ke luar negeri, makin ciamik. Dengan kefasihan Inggris, anak-anak disiapkan untuk tak lagi canggung jual negara jika sudah besar nanti. Sekolah yang tekankan karakter cuma satu dua. Lagu-lagu perjuangan jarang lagi terdengar di telinga anak-anak. Berbagai training motivasi pun tumbuh. Manusia Indonesia memang unik. Untuk jadi baik perlu dimotivasi. Namun yang ditawarkan lebih pada pengalaman pribadi. Manfaatnya baru sebatas pribadi.

    Hasilnya amat tampak di sebagian politisi. Durasi politisi kita cuma antarpilkada dan pemilu. Sulit dicari yang punya pemikiran 25 tahun ke depan. Yang tua-tua buat partai, bukan untuk majukan yang muda-muda. Dulu waktu menjabat, ngapain. Negarawan makin sulit dicari di Indonesia. Sebagian akademisi kita juga begitu. Larut dalam hingar bingar pemilu, hingga tak sungkan terjun ke berbagai model center para pejabat.

Spirit of corruption

    Ada karikatur yang menggambarkan seorang koruptor terengahengah dikejar massa. Dimanapun tempat tak aman. Hingga tergiringlah ke pengadilan. Tapi justru koruptor itu berkata: "Nah di sini tempat yang paling aman." Maka gelar HAKIM yang mulia pun diplesetkan. Singkatannya jadi begini: Hubungi Aku Kalau Ingin Menang. JAKSA pun disingkat jadi: Jika Akan Kalah Sisipkan Amplop.

    Artinya masyarakat sudah amat pesimis. Korupsi di Indonesia memang akut. Bukan hanya massal tapi juga dilakukan secara berjamaah. Korupsi bukan hanya gelapkan uang. Secara psikologis membuat demotivasi massal. Yang baik jadi tak peduli. Yang tak baik, termotivasi untuk berlomba korupsi. Mustahil sih tidak. Tapi untuk sementara ini, membasmi korupsi di corruptors' country bagai menggantang asap.

Lemah berkorban untuk bangsa

    Dalam setiap organisasi ada tiga kepentingan: pribadi, kelompok, dan lembaga. Bagi negara, kepentingan lembaga identik dengan kepentingan rakyat. Bagi yang beriman, inti kepentingan tak lepas kaitnya dengan akhirat. Yang harus diusung, tentu kepentingan lembaga. Namun kepentingan ini sering merugikan kepentingan pribadi. Maka pribadi-pribadi pun membentuk kelompok. Akibatnya kepentingan lembaga disisihkan. Di negara ini, rakyat jadi tumbal karena sudut pandang dan kepentingan sebagian politisi dan sebagian partai. Ujung-ujungnya ada pengusaha di sana. Rakyat hanya ada saat pilkada dan pemilu. Setelah itu nyaris tak ada yang peduli.

    Dalam perhelatan 20 Mei '08, presenter berteriak: "Bersama kita pertahankan kedaulatan bangsa". Kedaulatan hakiki itu terletak di mana? Kekuatan politik sebuah bangsa, sesungguhnya terletak di ekonomi. Jika berbagai asset jatuh ke asing, kedaulatan kita ambruk. Lihat Singapura. Lebih kecil dibanding Jakarta. Tapi kekuatan ekonominya yang diperhitungkan dunia, jadi kekuatan politik. Siapa berani lecehkan Singapura. Kabarnya, penerbangan di Indonesia pun dikendalikan dari Changi. Sementara Indonesia, membantu TKW pun tak sanggup. Memburu kapal ikan Thailand, juga kerap gagal karena peralatan kalah canggih. Maka 100 Tahun Kebangkitan atau 'Kebangetan' Nasional? [rol]




Komentar (1)
RSS comments
1. 23-05-2008 17:24
 
kebangkitan riil...pasti bisa!
:cry  
saya pingin selalu menangis melihat sikap para penguasa,tokoh hingga rakyat yang punya mata tapi ngga liat kita belum bangkit dari keterpurukan..bangkit apaan?hanya dengan Allah,syariah islamNya dan khilafahlah manusia di bumi ini,termasuk kita di indonesia bisa bangkit.khilafah?bisa!bisa!bisa!
Guest
 
Alamat email ini telah dilindungi dari spam bots, Javascript harus aktif untuk melihatnya

Tulis komentar
Nama:
E-mail
Homepage
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Code:* Code
I wish to be contacted by email regarding additional comments

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

 

 

Support

Marketing


Dapatkan CD Diskusi Namru-2

Dapatkan segera CD Diskusi Terbatas FUI membongkar Namru-2 yang menghadirkan Siti Fadilah Supari (Menkes), Munarman (FUI) dan Wawan Purwanto (Pengamat Intelijen). Hubungi 021-4894133/ 081387823409 (Surya).


Buku Laris

Image

Judul : 150 Menit Belajar Membaca Kitab Gundul
Penulis: Yasir Tajid S.M

Harga : Rp. 65.000 (Termasuk 2 CD Interaktif)

Membaca kitab gundul telah menjadi momok bagi para santri di pondok pesantren, aktivis dakwah yang mengkaji kitab-kitab berbahasa arab dan siapa pun yang berminat mempelajari Islam langsung dari sumber yang kebanyakan menggunakan bahasa arab gundul. Berbagai metode ditawarkan dalam pembelajaran membaca kitab gundul ini. Namun tak banyak yang menjanjikan waktu singkat untuk menguasainya. Salah satunya adalah buku 150 Menit Belajar Membaca Kitab Gundul ini.

Untuk pemesanan buku silahkan kunjungi Toko Buku Khilafah Centre atau hubungi 021-4894133/ 081387823409 (Surya).

Majalah/Tabloid

 Suara Islam edisi 55

Lebih dari 100 terpidana mati yang ditahan di penjara belum juga dieksekusi. Bahkan, ada yang sudah 38 tahun lebih tapi masih hidup sampai saat ini. Tapi mengapa media massa kita banyak yang memberitakan seolah-olah ada tekanan dari publik agar eksekusi mati Amrozi Cs segera dilaksanakan. Ada apa sebenarnya? Apakah pemerintah SBY sekedar ingin mendapat rapor baik atau bagaimana?

Mantan Kabakin ZA Maulani (almarhum) pernah menganalisis bahwa bom yang meledak di Paddys Club pada peristiwa Bom Bali I bukan bom biasa melainkan mikro nuklir yang hanya diproduksi di Amerika, Perancis dan Israel. Dikatakan juga, Amrozi cs tak mungkin bisa membuat bom mikro nuklir sedahsyat itu.

Di sisi lain, Amien Rais (Ketua MPR waktu itu) pernah meminta rekonstruksi agar Amrozi merakit bom dengan diberikan bahan-bahan bom persis sama dengan yang pernah dipakainya untuk meledakkan bom di Bali. Sayangnya, rekonstruksi ini tak pernah dilakukan. Sehingga tak pernah bisa dibuktikan bahwa Amrozilah yang membuat bom yang meledak dan menewaskan ratusan orang di Bali itu. Kasus bom Bali memang menyisakan kontroversi.

 
Image Suara Islam Edisi 49

Islam hanya akan bisa dimenangkan jika para pejuangnya bersatu dan saling bahu membahu. Rasulullah akan bergembira bila melihat orang-orang yang mengaku menjadi umatnya secara tulus ikhlas memperjuangkan Islam dengan gagah berani tanpa basa-basi. Sebaliknya Rasulullah akan bersedih bila aktivis partai Islam hanya menjadikan Islam sebagai tunggangan mencari kekuasaan dan kenikmatan duniawi. Maka arus Islam 2009 menjadi harapan umat demi kejayaan Islam. Beranikah partai-partai Islam membuktikan? Wallahu 'alam.

Dapatkan segera di Khilafah Centre. Tersedia pula Edisi Promosi dengan harga khusus. Hubungi Rasyid di 021-4894133/ 021-32926952 atau Surya di 081387823409.